Friday, November 24, 2017

Green Science and Green Technology



   Green Science pada prinsipnya adalah aplikasi paradigma atau pola berpikir ramah lingkungan ke dalam berbagai disiplin ilmu untuk mengembangkan kehidupan masyarakat yang ramah lingkungan.
   Dalam bidang teknologi, aplikasi green science utamanya dapat difokuskan dalam upaya-upaya untuk meningkatkan efisiensi energi dan mengurangi emisi karbon atau gas yang dapat mempengaruhi efek rumah kaca termasuk pengembangan energi terbarukan.

   Green Technology merupakan integrasi antara tekologi modern dan ilmu lingkungan yang diaplikasikan untuk melestarikan pemenuhan kebutuhan masyarakat secara berkelanjutan di masa depan tanpa merubah lingkungan dan sumber daya alam.
   Green Technology bertujuan untuk menemukan dan mengembangkan cara-cara untuk menyediakan kebutuhan bagi manusia tanpa menyebabkan kerusakan lingkungan atau pengurangan sumber daya alam secara cepat di Bumi. Salah satu contoh alternatif konvensional yang diterapkan guna mengaplikasikan konsep teknologi hijau adalah proses pendaur-ulangan sampah, upaya ini dapat memberikan pengurangan yang signifikan terhadap efek negatif pada lingkungan yaitu mengurangi jumlah limbah dan polusi yang dihasilkan dari kegiatan yang dilakukan oleh manusia.

   Konsep penerapan green technology secara umum memiliki beberapa tujuan utama  yang memilki prioritas untuk dapat diterapkan dalam kehidupan manusia, yaitu :
  1. Keberlangsungan, yaitu paya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat secara terus menerus di masa depan tanpa merusak atau menghabiskan sumber daya alam.
  2. Pendaur-ulangan Sampah, yaitu upaya untuk mengakhiri siklus barang sekali pakai, dengan menciptakan produk yang sepenuhnya dapat diperoleh kembali atau digunakan kembali. 
  3. Pengurangan Sumber Sampah, yaitu upaya untuk mengurangi sumber limbah dan polusi dengan mengubah pola produksi dan pola konsumsi.
  4. Inovasi, yaitu upaya untuk mengembangkan alternatif teknologi yang ramah lingkungan guna memenuhi kebutuhan manusia tanpa merusak lingkungan.
  5. Viabilitas, yaitu upaya untuk menciptakan suatu pusat kegiatan ekonomi di seluruh bidang teknologi dan produk yang memberikan keuntungan bagi lingkungan dan menciptakan peluang usaha baru yang benar-benar melindungi Bumi dari kerusakan.
  6. Edukasi, yaitu upaya untuk meningkatkan pemahaman akan pentingnya penerapan green technology guna mendukung terciptanya daya dukung lingkungan yang berkelanjutan.
   Prinsip utama pada konsep green technology meliputi:
  1. Kenyamanan Sosial
  2. Ekonomis
  3. Ramah Lingkungan
   Green Technology dibagi dalam beberapa bidang, yaitu: 
   A. Renewable Energy  
   Menekan angka pencemaran karbon ke udara dengan mengurangi pengunaan bahan bakar energi yang berasal dari fosil. Kita tahu bahwa sumber energi fosil memiliki potensi yang terbatas dan menghasilkan dampak yang tidak baik bagi lingkungan yaitu menghasilkan pencemaran karbon, hal ini akan berdampak buruk bagi bumi apabila tidak diambil tindakan. Penerapan konsep green technology adalah untuk mengefisienkan tingkat penggunaan energi, mulai dari sistem eksplorasi sumber energi, proses pengkonversian sumber tersebut menjadi energi hingga terbentuknya energi yang dapat dimanfaatkan masyarakat. Dengan adanya efisiensi energi diharapkan pencemaran karbon dapat ditekan.
    Solusi lain dari konsep green technology adalah dengan mengganti sumber energi dari fosil energi menjadi renewable energy atau energi terbarukan yang lebih potensial, ramah lingkungan dan dapat diperbaharui kembali. Renewable energy merupakan konsep utama dalam penerapan green technology di bidang energi, beberapa contoh renewable energy antara lain:
  1. Waste to Energy
  2. Biomass Enegy
  3. Hydro Energy
  4. Wind Energy
  5. Solar Energy
  6. Geothermal Energy
   Contoh penerapannya di Indonesia sebagai berikut:
  1. Penggunaan tenaga air (hydro power) sebagai sumber energi listrik.
  2. Penggunaan tenaga surya (solar cell power) sebagai sumber listrik.
  3. Pemanfaatan biomassa menjadi biofuel untuk bahan bakar (limbah tanaman jarak, tebu, ketela, jagung).
  4. Pemanfaatan biogas dari limbah organik dan kotoran ternak  sebagai pengganti bahan bakar minyak tanah/kayu bakar.
  5. Pemanfaatan biogas sebagai pengerak generator gas untuk pembangkit listrik.
   B. Green Building
   Konsep green building didorong menjadi tren dunia bagi pengembangan properti saat ini. Bangunan ramah lingkungan ini punya kontribusi menahan laju pemanasan global dengan membenahi iklim mikro. Poin terbesar dalam konsep ini adalah penghematan air dan energi serta penggunaan energi terbarukan.
   Hal-hal yang menyangkut bangunan ramah lingkungan adalah membangun hanya yang diperlukan dan tidak menggunakan lebih dari yang diperlukan, menganut prinsip keterkaitan, serta memandang profesi arsitek sebagai “pengurus bumi” (steward of the earth). Untuk strategi yang dapat diterapkan antara lain pemanfaatan material berkelanjutan, efisiensi lahan, keterkaitan dengan ekologi lokal, keterkaitan antara transit dan tempat tinggal, rekreasi dan bekerja, serta efisiensi penggunaan air, penanganan limbah, dan mengedepankan kondisi lokal baik secara fisik maupun secara sosial.
   Contoh penerapan konsep design green building sebagai berikut:
  1. Meminimalkan penggunaan lampu dengan memanfaatkan cahaya alami.
  2. Meminimalkan penggunaan mesin pendingin ruangan dan air dengan mengefektifkan design bangunan.
  3. Pengelolaan limbah “closed cycle” untuk gedung tempat tinggal.
  4. Menyediakan ruang terbuka hijau untuk tiap bangunan/gedung yang dibangun.
  5. Penggunaan material bangunan yang ramah lingkungan dan tahan lama.
   C. Green Chemistry
   Green chemistry adalah suatu falsafah atau konsep yang mendorong desain dari sebuah produk ataupun proses yang mengurangi ataupun mengeliminir penggunaan dan penghasilan zat-zat (substansi) berbahaya. Green chemistry lebih berfokus pada usaha untuk meminimalisir penghasilan zat-zat berbahaya dan memaksimalkan efisiensi dari penggunaan zat-zat (substansi) kimia.
   Green chemistry itu sendiri memiliki 12 asas, antara lain:
  1. Menghindari penghasilan sampah
  2. Desain bahan kimia dan produk yang aman
  3. Desain sintesis kimia yang tak berbahaya
  4. Penggunaan sumber daya yang dapat diperbaharui (renewable)
  5. Penggunaan katalis
  6. Menghindari bahan kimia yang sifatnya derivatif (chemical derivatives)
  7. Desain sintesis dengan hasil akhir (produk) yang mengandung proporsi maksimum  bahan mentah
  8. Penggunaan pelarut dan kondisi reaksi yang aman
  9. Peningkatan efisiensi energi
  10. Desain bahan kimia dan produk yang dapat terurai
  11. Pencegahan polusi
  12. Peminimalan potensi kecelakaan kerja
   Contoh penerapan konsep green chemistry:
  1. Vitamin C (asam askorbat) untuk proses pembuatan polimer.
  2. Gula dan minyak sayur sebagai bahan baku cat.
  3. Gula pati dan selulosa sebagai bahan bakar.
  4. Pemakaian enzim untuk pembuatan bahan dasar kosmetik.
  5. Kacang kedelai sebagai bahan pembuatan toner printer.
  6. Kacang kedelai sebagai bahan baku pembuatan lem perekat.
   D. Green Nanotechnology
   Green nanotechnology merupakan suatu upaya untuk meminimalisasi potensi resiko kerusakan lingkungan dan manusia yang terkait dengan pembuatan dan penggunaan produk nanoteknologi serta untuk mendorong penggantian produk yang ada dengan produk nano baru yang lebih ramah lingkungan.

   Komponent lain dari green technology:
   Life Cycle Analysis


   Life Cycle Analysis (LCA) merupakan alat untuk menilai potensi dampak lingkungan dari sistem produk atau jasa pada semua tahap dalam siklus hidup mereka – dari ekstraksi sumber daya, melalui produksi dan penggunaan produk menggunakan kembali, daur ulang atau pembuangan akhir.
   Komponen utama LCA dapat dibagi menjadi empat bagian, yaitu:
  1. Tujuan dan cakupan (Goal and Scoping), tujuan dan cakupan perlu dirumuskan untuk dilakukan inventarisasi kegiatan yangdiperkirakan dapat menimbulkan dampak penting yang ditimbulkan oleh proses atauproduk tertentu terhadap lingkungan.
  2. Analisis Inventori (Inventory Analysis), merupakan bagian LCA yang berisi inventori input yang berupa energi maupun bahan baku, dan output emisi maupun limbah. Pada proses ini dilakukan pengumpulan data kuantitatif untuk menentukan level atau tipe inputenergi maupun material pada suatu sistem industri dan hasil yang di lepaskan kelingkungan.
  3. Penakaran Dampak (Impact Assessment), penakaran dampak digunakan untuk menganalisis dampak suatu proses terhadap lingkungan dan kesehatan manusia yangtelah didata secara kuantitatif pada penakaran inventori. Dalam pengklasifikasian, data inventori yang dihubungkan dengan efek potensi terhadap ekologi dan kesehatan manusia ditempatkan dalam kategori-kategori khusus.
  4. Interpretasi atau Analisis Perbaikan (Improvement Analysis), pada tahapan ini dilakukan interpretasihasil, evaluasi, dan analisis terhadap usaha-usaha yang dapat dilakukan untuk perbaikan.
   Green Science dan Green Technology memiliki 12 prinsip, yaitu:
  1. Dengan aktivitas saat ini, manusia akan menghabiskan sumber daya bumi dan akan merusak lingkungan bumi sampai pada kondisi dimana keberadaan manusia di planet ini akan terganggu secara serius atau bahkan menjadi tidak mungkin ditempati lagi. Di masa lalu, peradaban telah menurun dan seluruh populasi mati karena mereka telah merendahkan kunci dari sistem lingkungan.
  2. Persamaan di bawah ini menjelaskan beban, dan degradasi sistem pendukung Bumi; kedua faktor tersebut harus ditangani:
Beban = (jumlah orang) × (permintaan per orang)
  1. Bahkan dengan risiko bencana global, teknologi akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Oleh karena itu, teknologi harus dirancang dengan tujuan tidak ada dampak pada lingkungan dan keberlanjutan maksimum.
  2. Dalam pengakuan akan realitas pada Prinsip 3, penting untuk mengenali lapisan anthrosfer sebagai satu dari lima lapisan dasar lingkungan.
  3. Kunci keberlanjutan adalah pengembangan sumber energi berlimpah yang digunakan secara efisien yang memiliki sedikit atau tidak ada dampak lingkungan, sumber seperti itu akan memerlukan keputusan dan kompromi yang sulit.
  4. Iklim yang kondusif untuk kehidupan di bumi harus dijaga.
  5. Kapasitas bumi untuk produktivitas biologis dan pangan harus dijaga dan ditingkatkan; ini akan membutuhkan pertimbangan interaksi semua lapisan pada prinsip kelima..
  6. Permintaan bahan harus dikurangi secara drastis dan bahan harus berasal dari sumber yang berkelanjutan, dapat didaur ulang, dan apabila bahan itu akan terbuang ke lingkungan, maka haruslah dapat terdegradasi.
  7. Produksi yang menggunakan bahan beracun,berbahaya harus diminimalisir dan limbahnya tidak dibuang ke lingkungan.
  8. Kesejahteraan manusia harus diukur dari segi kualitas hidup, bukan hanya perolehan harta benda. Ekonomi, sistem pemerintahan, kepercayaan, dan gaya hidup pribadi harus mempertimbangkan lingkungan dan keberlanjutan.
  9. Risiko dari tidak mengambil risiko harus diakui.
  10. Tujuannya adalah untuk mencapai keberlanjutan, sebuah konsep di mana siswa dan masyarakat harus dididik. Meskipun keberlanjutan akan memerlukan perubahan besar dalam sistem masyarakat, ilmuwan, insinyur, dan, akhirnya, warga yang tercerahkan harus memimpin. Tidak ada waktu bagi para politisi dan non-ilmuwan untuk mengambil keputusan.

---
Nama: Fitri Anda. S.
Dosen: Abdul Malik Firdaus, S. Kel, M.K.L,
Bahasan Green Science and Green Technology

Referensi:

https://yohanesgiyai.blogspot.co.id/2016/03/penerapan-green-science-untuk.html
https://yussupsolikhin.wordpress.com/2013/01/23/green-technology/
http://caturmanunggalperdana.blogspot.co.id/2010/06/life-cycle-analysis-life-cycle.html

Thursday, November 23, 2017

Strategi Pengurangan Dampak Lingkungan


1. Limbah
    1.1 Definisi Limbah
          Limbah adalah bahan buangan tidak terpakai yang berdampak negatif terhadap masyarakat jika tidak dikelola dengan baik. Limbah adalah sisa produksi, baik dari alam maupun hasil dari kegiatan manusia.
          Beberapa pengertian tentang limbah:
   A. Berdasarkan keputusan Menperindag RI No. 231/MPP/Kep/7/1997 Pasal I tentang prosedur impor limbah, menyatakan bahwa Limbah adalah bahan/barang sisa atau bekas dari suatu kegiatan atau proses produksi yang fungsinya sudah berubah dari aslinya.
   B. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 18/1999 Jo.PP 85/1999 Limbah didefinisikan sebagai sisa atau buangan dari suatu usaha dan/atau kegiatan manusia.

    1.2 Identifikasi Sistem Pencemaran dalam Industri
   A. Pengadaan
          Bahan baku diangkut dari sumbernya menuju pabrik. untuk hal tersebut perlu diketahui sifat bahan baku, bagaimana cara pengambilannya, di mana diambil, melalui apa diangkut, dan bagaimana cara mengangkut; terbuka atau tertutup, merupakan keadaan yang perlu dikaji secara mendalam.
          Misalnya: sumber pengambilan bahan baku berdekatan dengan sumber mata air yang mengakibatkan konflik kepentingan. Kemudian penyimpanan bahan baku di mana dilakukan dan selama penyimpanan berlangsung harus diketahui sifat-sifatnya; mudah busuk, mudah berkarat, dan lainnya.

   B. Pra Proses
          Di antara bahan baku memerlukan proses pendahuluan sebelum dilakukan pengolahan. Bahan baku kayu untuk playwood perlu dipotong-potong dahulu, lalu dicuci. Pencucian memerlukan banyak air dan menimbulkan lumpur.

   C. Proses
          Pada waktu proses berlangsung, perlu diteliti bagian yang banyak menggunakan air, menghasilkan bahan buangan antara bocoran dan jenis mesin yang dipergunakan. Dalam hal ini perlu dilihat bagian mana yang berpotensial menciptakan limbah dan penghasil limbah. Kemudian limbah ini memerlukan daur ulang.
          Jika masih bernilai ekonomis, maka limbah tadi dikembalikan untuk memperoleh bahan yang masih bernilai ekonomis. Limbah yang tidak mempunyai nilai ekonomis, diolah sampai memenuhi syarat buangan, baru selanjutnya dibuang.

   D. Produk
          Produk suatu pabrik secara rinci dapat diklasifikasikan menjadi produk utama, produk sampingan, produk antara dan buangan. Produk sampingan dan antara memerlukan pengolahan lanjut, sedangkan buangan harus segera ditangani. Buangan akhir ini juga perlu diteliti apakah mempunyai nilai ekonomis atau tidak.
          Bila masih terdapat nilai ekonomis maka limbah didaur ulang, sedangkan bila tidak, limbah tersebut dibuang setelah memenuhi syarat buangan. Perlu pula diteliti tingkat keterampilan dan kesadaran pimpinan dalam menjaga kelestarian lingkungan.

   E. Proses Pengolahan Limbah


Proses pengolahan limbah
          Terjadinya penggunaan air yang berlebihan, tercecernya bahan dalam pabrik, timbulnya limpahan air yang seharusnya dapat dihindari, terdapatnya bocoran air yang seharusnya tidak perlu dan masalah lain yang serupa, menunjukkan bahwa perusahaan kurang tanggap terhadap lingkungan atau keterampilan mereka terbatas dalam menjalankan teknik produksi.
          Kualitas lingkungan pada suatu periode dan lokasi tertentu perlu diketahui dalam kaitannya dengan perencanaan proyek industri. Setiap industri yang akan berdiri pada lokasi tersebut harus mengetahui kondisi lingkungan sehingga kehadiran pabrik tidak menyebabkan rusaknya lingkungan. Monitoring terhadap pengaruh limbah pabrik dapat dilakukan setiap saat sampai kualitas lingkungan mengalami perubahan dan langkah yang dilaksanakan untuk menjaga kelestarian lingkungan.
          Daya dukung lingkungan juga perlu dibuat dalam rangka menetapkan standar kualitas buangan. Kualitas yang ditetapkan seharusnya merupakan indikasi bahwa dalam kondisi tersebut lingkungan masih mampu menerima. Artinya dengan kualitas limbah tersebut, kualitas lingkungan tidak mengalami perubahan.
          Hubungan antara kualitas dan daya dukung lingkungan serta kualitas limbah merupakan hubungan yang saling ketergantungan dan perlu distandarkan.

    1.3 Nilai Ambang Batas
          Nilai ambang batas berarti ukuran bagi lingkungan berupa area lahan, daerah perairan badan air (sungai, danau, teluk, dll) serta ruang udara, yang menyatakan batas tingkat pencemaran atau gangguan yang diperbolehkan memengaruhi lingkungan, sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku.
          Fungsi nilai ambang batas ialah sebagai berikut:
   A. Sebagai indikator untuk mengetahui secara dini lingkungan tercemar atau tidak
   B. Sebagai parameter menyatakan batasan kadar suatu zat akan berubah sifatnya dari kontaminan menjadi polutan. Kontaminan ialah keadaan dimana keberadaan zat tercemar belum terlalu kuat untuk memberikan dampak negatif secara langsung
   C. Pedoman pengendalian masalah pencemaran
   D. Perlindungan bagi masyarakat bagi kesehatan masyarakat

2. Klasifikasi Limbah
    2.1 Limbah Cair


Contoh limbah cair
          Limbah cair adalah sisa dari suatu hasil usaha dan atau kegiatan yang berwujud cair yang dibuang ke lingkungan dan diduga dapat menurunkan kualitas lingkungan. Sedangkan menurut Sugiharto (1987), air limbah (waste water) adalah kotoran dari masyarakat, rumah tangga, dan juga yang berasal dari industri, air tanah, air permukaan, serta buangan lainnya.
          Begitupun dengan Metcalf & Eddy (2003), mendefinisikan limbah berdasarkan titik sumbernya sebagai kombinasi cairan hasil buangan rumah tangga (permukiman), instansi perusahaaan, pertokoan, dan industri dengan air tanah, air permukaan, dan air hujan.
          Limbah cair merupakan sisa buangan hasil suatu proses yang sudah tidak dipergunakan lagi, baik berupa sisa industri, rumah tangga, peternakan, pertanian, dan sebagainya. Komponen utama limbah cair adalah air (99%) sedangakan komponen lainnya bahan padat yang bergantung asal buangan tersebut. (Rustama et. al, 1998)

          Macam-macam dan sumber air limbah sebagai berikut:
    A. Air limbah rumah tangga (domestic wastes water) adalah air limbah yang berasal dari pemukiman penduduk. Pada umumnya air limbah ini terjadi dari eksreta (tinja dan air seni), air bekas cucian dapur dan kamar mandi (terdiri dari bahan-bahan organic) yang berasal dari sumber lain seperti air hujan yang bercampur dengan air comberan dan sebagainya.

   B. Air buangan industri (industial wastes water) berasal dari berbagai jenis industri akibat proses produksi. Zat-zat yang terkandung di dalamnya sangat bervariasi sesuai dengan bahan baku yang dipakai oleh masing-masing industry. Misalnya nitrogen, sulfida, garam-garam, zat pewarna, mineral, logam berat, zat pelarut dan lain-lain

   C. Dari perusahaan (comersial waste) air buangan yang berasal dari daerah perkantoran, perdagangan, hotel, restoran, tempat-tempat umum, tempat ibadah, dan lainnya. Zat-zat yang terkandung di dalam jenis air limbah ini umumnya sama dengan air limbah rumah tangga.

    2.2 Limbah Padat


Contoh limbah padat
          Limbah padat merupakan buangan dari hasil- hasil industri yang tidak terpakai lagi yang berbentuk padatan, lumpur maupun bubur yang berasal dari suatu proses pengolahan, ataupun sampah yang dihasilkan dari kegiatan- kegiatan industri, serta dari tempat- tempat umum.
           Limbah padat seperti ini apabila dibuang di dalam air pastinya akan mencemari air tersebut dan dapat menyebabkan makhluk hidup yang tinggal di dalamnya akan mati. Sementara apabila dibuang di wilayah daratan tanpa adanya proses pengolahan, maka akan mencemari tanah di wilayah tersebut. Beberapa contoh dari limbah industri padat antara lain adalah plastik, kantong, sisa pakaian, sampah kertas, kabel, listrik, bubur- bubur sisa semen, lumpur- lumpur sisa industri, dan lain sebagainya.

2.3 Limbah Gas dan Partikel


Contoh limbah gas dan partikel
          Limbah gas merupakan limbah yang disebabkan oleh sumber alami maupun sebagai hasil aktivitas manusia yang berbentuk molekul- molekul gas dan pada umumnya memberikan dampak yang buruk bagi kehidupan makhluk hidup yang ada di Bumi. Limbah gas ini tentu saja berbentuk gas. Oleh karena bentuknya gas, maka limbah pabrik gas ini biasanya mencemari udara. Beberapa contoh limbah gas ini antara lain adalah kebocoran gas, pembakaran  pabrik, asap pabrik sisa produksi dan lain sebagainya.

2.4 Limbah B3 (Beracun, Berbahaya, dan Bahan Lainnya). 


Contoh limbah B3
          Kata B3 merupakan akronim dari bahan beracun dan berbahaya. Oleh karena itu, pengertian limbah B3 dapat diartikan sebagai suatu buangan atau limbah yang sifat dan konsentrasinya mengandung zat yang beracun dan berbahaya sehingga secara langsung maupun tidak langsung dapat merusak lingkungan, mengganggu kesehatan, dan mengancam kelangsungan hidup manusia serta organisme lainya.
          Limbah B3 bukan hanya dapat dihasilkan dari kegiatan industri. Kegiatan rumah tangga juga menghasilkan beberapa limbah jenis ini. Beberapa contoh limbah B3 yang dihasilkan rumah tangga domestik) di antaranya bekas pengharum ruangan, pemutih pakaian, deterjen pakaian, pembersih kamar mandi, pembesih kaca/jendela, pembersih lantai, pengkilat kayu, pembersih oven, pembasmi serangga, lem perekat, hair spray, dan batu baterai.

3. Pengolahan Limbah
    3.1 Pengolahan Limbah Cair
          Ada beberapa sistem pengolahan limbah cair, yaitu:
   A. Sistem Lumpur Aktif
Ilustrasi sistem lumpur aktif
          Prinsip dasar pada sistem ini terbagi atas 2 unit proses utama, yaitu bioreaktor dan tangki sedimentasi. Pada sistem ini limbah cair dan biomassa akan dicampur secara sempurna dalam satu reaktor dan diaerasi, dimana tujuan aerasi tersebut adalah sebagai sarana pengadukan dalam suspensi.
           Setelah dicampur maka akan dialirkan ke dalam tangki sedimentasi yang mana biomassa akan dipisahkan dari air yang telah diolah. Sebagian dari biomassa yang mengendap akan dikembalikan ke bioreaktor dan air yang telah diolah akan dibuang ke lingkungan. Adapun tujuan dari perngolahan limbah cair dengan sistem ini adalah untuk menyisihkan senyawa karbon, penyisihan senyawa nitrogen, penyisihan fosfor, dan untuk stabilisasi lumpur secara aerobik simultan.
          Kelebihan dari sistem ini antara lain adalah sistem ini dapat diterapkan untuk semua jenis limbah cair industri. Sedangkan kekurangannya adalah biayanya yang cukup mahal karena peralatan yang digunakan cukup banyak.

   B. Sistem Trickling Filter
Ilustrasi sistem trickling filter
           Prinsip dasar dari sistem ini adalah berpusat pada tumpukan media padat dengan kedalaman kurang lebih 2 meter dan pada umumnya berbentuk silinder. Pada sistem ini, limbah cair akan disebarkan ke area permukaan dari media tersebut dengan syarat lengan distributor berputar agar air dapat mengalir/menetes ke bawah melalui lapisan.
           Limbah yang mengalir tersebut akan terabsorpsi oleh mikroorganisme yang tumbuh dan berkembang pada permukaan. Apabila sudah mencapai ketebalan tertentu biasanya lapisan biomassa akan terbawa oleh aliran limbah cair menuju bawah yang kemudian akan dialirkan menuju tangki sedimentasi untuk memisahkan biomassa. Adapun tujuan dari trickling filter ini antara lain adalah untuk mengoksidasi karbon dan nitrogen dalam limbah cair.
          Kelebihan dari sistem ini adalah sangat baik untuk oksidasi karbon ataupun nitrifikasi dan juga penggunaannya yang praktis. Adapun kekurangannya adalah kemungkinannya terjadi penyumbatan pada media filter oleh partikel yang berukuran besar seperti kayu, daun, dan ranting.

   C.  Sistem RBC

Ilustrasi sistem RBC (Rotating Biolocal Contactor)


          RBC (Rotating Biolocal Contactor) merupakan sistem pengolan limbah cair yang terdiri atas deretan cakram yang dipasang pasa as secara horizontal dengan jarak masing-masing 4 cm. Sebagian dari cakram tersebut akan dimasukkan dalam limbah cair dan sebagian yang lain digunakan sebagai kontak dengan udara.
          Ketika as tersebut diputar maka permukaan cakram secara bergantian kontak dengan limbah cair, kemudian kontak dengan udara. Akibat perputaran tersebut adalah tumbuhnya mikroorganisme pada permukaan cakram yang digunakan sebagai lapisan biologis (biomassa) dan kemudian akan mengabsorpsi bahan organik yang ada dalam limbah cair.

   D. Sistem SBR
Ilustrasi sistem SBR (Squencing Batch Reactor)
          SBR (Squencing Batch Reactor) adalah sistem lumpur aktif yang dioperasikan secara batch (curah). Sistem SBR ini hampur sama dengan sistem lumpur aktif akan tetapi sedikit berbeda. Apabila pada sistem lumpur aktif proses aerasi dan sedimentasi berlangsung dalam 2 tangki akan tetapi pada sistem SBR berlangsung secara bergantian pada tangki yang sama.
Salah satu keistimewaan dari sistem SBR adalah tidak diperlukannya resirkulasi sludpe. Proses pengolahan limbah cair dengan sistem SBR ini terdiri atas 5 tahapan, yaitu tahap pengistan, tahap reaksi (aerasi), tahap pengendapan, tahap pembuangan dan tahap idle. Yang mana 5 tahap tersebut berlangsung dalam satu tabung panjang yang dibuat secara bertingkat.
          Adapun kelebihan dari sistem ini adalah dapat digunakan untuk mengeliminasi karbon, fosfor dan nitrogen serta untuk memisahkan biomassa. Kelemahan dari sistem ini adalah hanya dapat digunakan sesuai dengan jumlah limbah cair dalam volume kecil dan tidak berlangsung secara discontinue.


   E. Sistem Kolam
Ilustrasi sistem kolam

          Prinsip dasar sistem kolam adalah dengan menyuplai oksigen dan melakukan pengadukan secara alami sehingga proses perombakan bahan organik menjadi berlangsung dalam waktu lama dan di area yang luas. Pada sistem ini, berbagai jenis mikroorganisme turut berperan aktif dalam proses perombakan.
          Contoh dari mikroorganisme yang berperan dalam proses ini contohnya adalah organisme autotrof yang bertugas untuk mengambil bahan anorganik melalui proses fotosintesis. Akibat terlalu lama tinggal di limbah cair maka organisme dengan tingkat generasi tinggi akan tumbuh dan berkembang dalam sistem kolam. Organisme tersebut akan hidup secara aktif dalam air atau pada dasar kolam.
          Adapun komposisi dari organisme tersebut bergantung pada temperatur kolam, suplai oksigen, sinar matahari serta jenis dan konsentrasi substrat.
          Adapun kelebihan dair sistem ini adalah metode pengolahan yang sederhana dan tidak memerlukan peralatan mekanis, selain itu penggunaannya yang mudah diperasikan dan tentunya tidak mengeluarkan biaya yang tinggi. Kekurangan dari sistem ini adalah sangat bergantung pada kondisi cuaca dan tentunya memerlukan lahan yang luas. Tidak hanya itu, kolam yang berisi limbah tersebut kemungkinan besarnya juga dapat dijadikan sebagai tempat berkembangbiaknya nyamuk.

   F. Sistem UASB
Ilustrasi sistem UASB (Up-flow Anaerobic Sludge Blanket)
          Sistem UASB (Up-flow Anaerobic Sludge Blanket) adalah sistem pengolahan yang berbasis reaktor anaerobik yang paling banyak diterapkan dalam pengolahan berbagai jenis limbah cair. Sistem ini menerapkan proses anaerobik dimana bahan organik akan dikonversi menjadi produk akhir berupa gas metana dan karbon dioksida. Perbedaan antara proses aerobik dan anaerobik terletak pada karakteristik biomassya yang akan menentukan jalannya proses perombakan.
          Pengolahan limbah cair dengan sistem ini sudah banyak mengalami perkembangan yang mana berbagai jenis reaktor anaerobik telah dikembangkan lebih lanjut yang diantaranya adalah raktor teraduk secara sempurna seperti fixed bed reactor dan fluidized bed reactor. Salah satu jenis reaktor anaerobik yang sering digunakan dalam pengolahan limbah cair dalam skala teknis adalah UASB ini.
          Proses jalannya reaktor UASB ini adalah dengan mengalirkan influen dari bawah menuju ke atas yang mana hal ini disebabkan akibat adanya perkembangan dari mikroorganisme yang ada di bawah reaktor.
          Kelebihan dari sistem ini adalah konstruksinya yang sederhana dan tidak memerlukan bahan untuk pertumbuhan mikroorganisme. Adapun kekurangannya adalah sangat sensitif terhadap perubahan beban hidrolik dan beban organik yang laju perombakannya relatif rendah dibandingkan dengan reaktor anaerobik lainnya.


   G. Sistem Tank


Ilustrasi sistem tank

          Sistem septik tank adalah pengolahan limbah cair yang sangat sederhana. Yang mana dalam suatu sistem septik tank ini proses perombakan limbah cair berlangsung dalam kondisi anaerobik sama seperti sistem UASB, akan tetapi pada sistem septik tank ini harus dilengkapi dengan fasilitas khusus untuk peresapan efluen.
          Kelebihan dari sistem ini adalah efektif digunakan untuk pengolahan limbah cair industri pangan dengan kadar bahan organik yang tinggi, tentunya dapat diterapkan untuk debit limbah cair yang relatif kecil dan tidak continue, biayanya yang murah dan tidak perlu keahlian khusus untuk membuat konstruksinya. Kelemahan dari sistem ini yaitu sangat berpotensi dalam pencemaran air tanah.

    3.2 Pengolahan Limbah Padat
          Ada beberapa cara yang dapat dilakukan dalam pengolahan limbah padat, yaitu:
   A. Penimbunan Terbuka
          Solusi atau pengolahan pertama yang bisa dilakukan pada limbah padat adalah penimbunan terbuka. Limbah padat dibagi menjadi organik dan juga non organik. Limbah padat organik akan lebih baik ditimbun, karena akan diuraikan oleh organisme- organisme pengurai sehingga akan membuat tanah menjadi lebih subur

   B. Sanitary Landfill
          Sanitary landfill ini menggunakan lubang yang sudah dilapisi tanah liat dan juga plastik untuk mencegah pembesaran di tanah dan gas metana yang terbentuk dapat digunakan untuk menghasilkan listrik.

   C. Insenerasi
          Hasil panas digunakan untuk listrik atau pemanas ruangan.

   D. Membuat Kompos Padat
          Limbah padat yang bersifat organik akan lebih bermanfaat apabila dibuat menjadi kompos. Kompos ini bisa dijadikan sebagai usaha masyarakat yang sangat bermanfaat bagi banyak orang.

   E. Daur Ulang
          Limbah padat yang bersifat non organik bisa dipilah-pilah kembali. Limbah padat yang masih bisa diproses kembali bisa di daur ulang menjadi barang yang baru atau dibuat barang lain yang bermanfaat atau bernilai jual tinggi.

    3.3 Pengolahan Limbah Gas dan Partikel
   A. Pengurangan Gas Buang
          Gas- gas berbahaya yang terkandung di dalam limbah gas perlu untuk dikontrol jumlahnya supaya tidak mencemari udara yang ada di sekitar kita. ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengontrol jumlah gas berbahaya ini, antara lain:
  • Desulfurisasi, yaitu dilakukan dengan menggunakan filter basah atau wet scrubber. Desulfurisasi ini dapat menghilangkan gas sulfur oksida sebagai hasil pembakaran bahan bakar. Selain sulfur oksida, cara ini juga dapat mengontrol jumlah gas- gas buang lainnya seperti nitrogen oksida, karbon monoksida, dan hidrokarbon.
  • Menurunkan suhu pembakaran, yaitu dilakukan dengan cara memasang alat pengubah katalitik dengan tujuan menyempurnakan pembakaran. Gas – gas buang yang dapat dikontrol dengan menggunakan alat ini antara lain adalah nitrogen oksida, karbon monoksida dan hidrokarbon.
  • Menggunakan bahan bakar alternatif, yaitu dengan menggunakan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan dan tidak banyak mengandung bahan- bahan kimia yang berbahaya.
   B. Penggunaan Metode Fisik- Kimia
           Metode fisik dan kimia dapat dilakukan untuk memurnikan gas buangan agar lebih ramah lingkungan. Metode fisik- kimia ini dilakukan berdasarkan perubahan fase atau penyerapan pada suatu adsorban, yang dijelaskan sebagai berikut:
  • Metode Fase Gas, digunakan untuk menyamarkan bau busuk yang tidak disukai dengan memberikan bau- bauan yang enak. Pada dasarnya metode ini bukan untuk menghilangkan gas, namun hanya untuk menyamarkan saja.
  • Metode Fase Cair, merupakan metode yang digunakan untuk penyerapan gas yang memiliki tingkat kelarutan yang tinggi pada zat cair. Gas buangan dialirkan kemudian dikontakkan dengan senyawa penyerap gas (adsorban) yang mana pada umumnya menggunakan air. Kemudian adsorban akan dimurnikan kembali jika memungkinkan, dimanfaatkan untuk penggunaan lainnya, atau dibuang.
  • Metode Fase Padat, digunakan untuk penyerapan gas oleh senyawa penyerap atau adsorban dalam bentuk padat. Proses ini dimulai dengan melarikan gas dan mengontakkannya dengan dengan adsorban padat. Molekul gas akan terserap dan terkondensasi di permukaan adsorban secara fisik maupun kimia. Contoh salah satu adsorban yang sering digunakan adalah arang aktif.
  • Metode Pembakaran, dilakukan dengan cara membakar langsung gas senyawa organik pada tingkat suhu yang cukup sehingga dapat menghasilkan karbondioksida dan air. Namun metode ini mempunyai kelemahan, yaitu membutuhkan biaya yang lumayan besar, sehingga banyak orang menghindari metode ini.
    3.4 Pengolahan Limbah B3
          Terdapat banyak metode pengolahan limbah B3 di industri, 3 metode yang paling populer diantaranya ialah:
   A. Chemical Conditioning
          Chemical conditioning terdiri dari beberapa tahapan sebagai berikut:
   1. Concentration Thickening
          Tahapan ini bertujuan untuk mengurangi volume lumpur yang akan diolah dengan cara meningkatkan kandungan padatan. Alat yang umumnya digunakan pada tahapan ini ialah gravity thickener dan solid bowl centrifuge.
          Tahapan ini pada dasarnya merupakan tahapan awal sebelum limbah kadar airnya pada tahapan de-watering selanjutnya. Walaupun tidak sepopuler gravity thickener dan centrifuge, beberapa unit pengolahan limbah menggunakan proses flotation pada tahapan awal ini.

   2.  Treating, Stabilization, and Conditioning
          Tahapan kedua ini bertujuan untuk menstabilkan senyawa organik dan menghancurkan patogen. Proses stabilisasi dapat dilakukan melalui proses pengkondisian secara kimia, fisika, dan biologi.
          Pengkondisian secara kimia berlangsung dengan adanya proses pembentukan ikatan bahan-bahan kimia dengan pertikel koloid. Pengkondisian secara fisika berlangsung dengan jalan memisahkan bahan-bahan kimia dan koloid dengan cara pencucian dan destruksi. Pengkondisian secara biologi berlangsung dengan adanya proses destruksi dengan bantuan enzim dan reaksi oksidasi.
          Proses-proses yang terlibat pada tahapan ini ialah lagooning, anaerobic digestion, aerobic digestion, heat treatment, polyelectrolite flocculation, chemical conditioning, dan elutriation.

   3. De-watering and Drying De-watering and Drying
          Tahapan ini bertujuan untuk menghilangkan atau mengurangi kandungan air dan sekaligus mengurangi volume lumpur. Proses yang terlibat pada tahapan ini umumnya ialah pengurangan dan filtrasi. Alat yang biasa digunakan adalah drying bed, filter press, centrifuge, vacuum filter, dan belt press.

   4. Disposal
          Disposal ialah proses pembuangan akhir limbah B3. Beberapa proses yang terjadi sebelum limbah B3 dibuang ialah pyrolysis, wet air oxidation, dan composting. Tempat pembuangan akhir limbah B3 umumnya ialah sanitary landfill, crop land, atau injection well.

   B. Solidification/Stabilitation
          Secara umum stabilisasi dapat didefinisikan sebagai proses pemcampuran limbah dengan bahan tambahan (aditif) dengan tujuan menurunkan laju migrasi bahan pencemar dari limbah serta untuk mengurangi toksisitas limbah tersebut. Sedangkan solidifikasi didefinisikan sebagai proses pemadatan suatu bahan berbahaya dengan penambahan aditif.           Kedua proses tersebut seringkali terkait sehingga sering dianggap mempunyai arti yang sama. Proses solidifikasi/stabilisasi berdasarkan mekanismenya dapat dibagi menjadi 6 golongan, yaitu:
  1. Macroencapsulation, yaitu proses dimana bahan berbahaya dalam limbah dibungkus dalam matriks struktur yang besar.
  2. Microencapsulation, yaitu proses yang mirip macroencapsulation tetapi bahan pencemar terbungkus secara fisik dalam struktur kristal pada tingkat mikroskopik.
  3. Precipitation
  4. Adsorpsi, yaitu proses dimana bahan pencemar diikat secara elektrokimia pada bahan pemadat melalui mekanisme adsorpsi.
  5. Absorpsi, yaitu proses solidifikasi bahan pencemar dengan menyerapkannya ke bahan padat.
  6. Detoxification, yaitu proses mengubah suatu senyawa beracun menjadi senyawa lain yang tingkat tiksisitasnya lebih rendah atau bahkan hilang sama sekali.

          Teknologi solidifikasi/stabilisasi umumnya menggunakan semen, kapur (CaOH2), dan bahan termoplastik. Metoda yang diterapkan di lapangan ialah metoda in-drum mixing, in-situ mixing, dan plant mixing. Peraturan mengenai solidifikasi/stabilisasi diatur oleh BAPEDAL berdasarkan Kep-03/BAPEDAL/09/1995 dan Kep-04/BAPEDAL/09/1995.

   C. Incernation
          Teknologi pembakaran (incernation) adalah alternatif yang menarik dalam teknologi pengolahan limbah. Insinerasi mengurangi volume dan massa limbah hingga sekitar 90% (volume) dan 75% (berat). Teknologi ini sebenarnya bukan solusi final dari sistem pengolahan limbah padat karena pada dasarnya hanya memindahkan limbah dari bentuk padat yang kasat mata ke bentuk gas yang tidak kasat mata. Proses insinerasi menghasilkan energi dalam bentuk panas. Namun, insinerasi memiliki beberapa kelebihan dimana sebagian besar dari komponen limbah B3 dapat dihancurkan dan limbah berkurang dengan cepat. Selain itu, insinerasi memerlukan memerlukan lahan yang relatif kecil.

          Aspek penting dalam sistem insinerasi adalah nilai kandungan energi (heating value) limbah. Selain menentukan kemampuan dalam mempertahankan berlangsungnya proses pembakaran, heating value juga menentukan banyaknya energi yang dapat diperoleh dari sistem insinerasi. Jenis insinerator yang paling umum diterapkan untuk membakar limbah padat B3 ialah rotary kiln, multiple hearth, fluidized bed, open pit, single chamber, multiple chamber, aqueous waste injection, dan starved air unit. Dari semua jenis insinerator tersebut, rotary kiln mempunyai kelebihan karena alat tersebut dapat mengolah limbah padat, cair, dan gas secara simultan.


---

Nama: Fitri Anda. S.
Dosen: Abdul Malik Firdaus, S. Kel, M. I. L.
Pembahasan: Strategi Pengurangan Dampak Lingkungan 


Referensi:

http://blogspot--id.blogspot.co.id/2013/10/pengertian-karateristik-dan-jenis-jenis.html
https://www.slideshare.net/dianfery/smk12-kimiaindustrisuparni
http://industri20maya.blogspot.co.id/2013/06/sistem-identifikasi-pencemaran-pada.html
https://www.apaarti.com/nilai-ambang-batas.html
http://www.astalog.com/8682/pengertian-limbah-cair.html
https://ilmugeografi.com/ilmu-sosial/sistem-pengolahan-limbah-cair
https://ilmugeografi.com/geografi-teknik/pengolahan-limbah-industri
https://ilmugeografi.com/geografi-teknik/pengolahan-limbah-padat
http://www.ebiologi.com/2017/01/limbah-b3-pengertian-contoh-sifat-dan.html
https://ilmugeografi.com/geografi-teknik/pengolahan-limbah-gas
https://www.kompasiana.com/arif.rachman/pengolahan-limbah-b3-bahan-berbahaya-dan-beracun_551b496c813311687f9de5fc

Tuesday, November 21, 2017

International Organization for Standardization (ISO)


        International Organization for Standardization atau disingkat ISO merupakan badan penetap standar internasional yang terdiri dari wakil-wakil badan standarisasi nasional setiap negara. Didirikan pada 23 Februari 1947, ISO bertugas menetapkan standar-standar industrial dan komersial dunia. ISO merupakan lembaga nirlaba internasional yang pada awalnya dibentuk untuk membuat dan memperkenalkan standarisasi international untuk apa saja. Standar yang sudah dikenal misalnya standar jenis fotografi, ukuran kartu telpon, kartu ATM Bank, dan banyak lainnya.
        Dalam menetapkan suatu standar, ISO mengundang wakil anggotanya dari 130 negara untuk duduk dalam Komite Teknis (TC), sub komite (SC), dan Kelompok Kerja (WG). Meski ISO adalah organisasi non-pemerintah, kemampuannya untuk menetapkan standar yang sering menjadi hukum melalui persetujuan atau standar nasional membuatnya lebih berpengaruh daripada kebanyakan organisasi non-pemerintah lainnya.

        Dalam prakteknya, ISO menjadi konsornium dengan hubungan yang kuat dengan pihak-pihak pemerintah.
Peserta ISO termasuk satu badan standar nasional dari setiap negara dan perusahaan-perusahaan besar. ISO bekerja sama dengan Komisi Elektroteknik Internasional (IEC) yang bertanggung jawab terhadap standarisasi peralatan elektronik.
        

        Penerapan ISO di suatu perusahaan berguna untuk:
  1. Meningkatkan citra perusahaan
  2. Meningkatkan kinerja lingkungan perusahaan
  3. Meningkatkan efisiensi kegiatan
  4. Memperbaiki manajemen organisasi dengan menerapkan perencanaan, pelaksanaan, pengukuran dan tindakan perbaikan (plan, do, check, act)
  5. Meningkatkan penataan terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan dalam hal pengelolaan lingkungan
  6. Mengurangi risiko usaha
  7. Meningkatkan daya saing
  8. Meningkatkan komunikasi internal dan hubungan baik dengan berbagai pihak yang berkepentingan
  9. Mendapat kepercayaan dari konsumen/mitra kerja/pemodal
        Beberapa contoh standarisasi ISO ialah:
  • ISO 9000
        ISO 9000 adalah kumpulan standar untuk sistem manajemen mutu (SMM). ISO 9000 yang dirumuskan oleh TC 176 ISO, yaitu organisai internasional di bidang standardisasi. ISO 9000 pertama kali dikeluarkan pada tahun 1987 oleh International Organization for Standarization Technical Committee (ISO/TC) 176. ISO/TC inilah yang bertanggungjawab untuk standar-standar sistem manajemen mutu. ISO/TC 176 menetapkan siklus peninjauan ulang setiap lima tahun, guna menjamin bahwa standar-standar ISO 9000 akan menjadi up to date dan relevan untuk organisasi. Revisi terhadap standar ISO 9000 telah dilakukan pada tahun 1994 dan tahun 2000.

  1. adanya satu set prosedur yang mencakup semua proses penting dalam bisnis
  2. adanya pengawasan dalam proses pembuatan untuk memastikan bahwa sistem menghasilkan produk-produk berkualitas
  3. tersimpannya data dan arsip penting dengan baik
  4. adanya pemeriksaan barang-barang yang telah diproduksi untuk mencari unit-unit yang rusak, dengan disertai tindakan perbaikan yang benar apabila dibutuhkan
  5. secara teratur meninjau keefektifan tiap-tiap proses dan sistem kualitas itu sendiri
        Sebuah perusahaan atau organisasi yang telah diaudit dan disertifikasi sebagai perusahaan yang memenuhi syarat-syarat dalam ISO 9001 berhak mencantumkan label  "ISO 9001 Certified" atau "ISO 9001 Registered".
        Sertifikasi terhadap salah satu ISO 9000 standar tidak menjamin kualitas dari barang dan jasa yang dihasilkan. Sertifikasi hanya menyatakan bahwa bisnis proses yang berkualitas dan konsisten dilaksanakan di perusahaan atau organisasi tersebut. Walaupan standar-standar ini pada mulanya untuk pabrik-pabrik, saat ini mereka telah diaplikasikan ke berbagai perusahaan dan organisasi, termasuk perguruan tinggi dan universitas.

        Beberapa kumpulan dalam ISO 9000 mencakup:

  1. ISO 9000 - Quality Management Systems - Fundamentals and Vocabulary: mencakup dasar-dasar sistem manajemen kualitas dan spesifikasi terminologi dari Sistem Manajemen Mutu (SMM).
  2. ISO 9001 - Quality Management Systems - Requirements: ditujukan untuk digunakan di organisasi manapun yang merancang, membangun, memproduksi, memasang, dan/atau melayani produk apapaun atau memberikan bentuk jasa apapun. Standar ini memberikan daftar persyaratan yang harus dipenuhi oleh sebuah organisasi apabila mereka hendak memperoleh kepuasan pelanggan sebagai hasil dari barang dan jasa yang secara konsisten memenuhi permintaan pelanggan tersebut. Implementasi standar ini adalh satu-satunya yang bisa diberikan sertifikasi oleh pihak ketiga.
  3. ISO 9004 - Quality Management Systems - Guidelines for Performance Improvements: mencakup perihal perbaikan sistem yang terus menerus. Bagian ini memberikan masukan tentang apa yang bisa dilakukan untuk mengembangkan sistem yang telah terbentuk lama. Standar ini tidaklah ditujukan sebagai panduan untuk implementasi, hanya memberikan masukan saja.
  • ISO 9001

        ISO 9001 merupakan standar internasional di bidang sistem manajemen mutu. Suatu lembaga/organisasi yang telah mendapatkan akreditasi (pengakuan dari pihak lain yang independen) ISO tersebut, dapat dikatakan telah memenuhi persyaratan internasional dalam hal manajemen penjaminan mutu produk/jasa yang dihasilkannya.
        Sistem manajemen mengacu pada apa yang organisasi lakukan untuk mengelola proses, atau aktivitas, sehingga produk atau jasa memenuhi tujuan yang telah ditetapkannya sendiri, seperti:


  1. Memenuhi persyaratan kualitas pelanggan,
  2. Sesuai dengan peraturan, atau
  3. Tujuan lingkungan.
        Berikut adalah proses registrasi/pedaftaran sertifikasi ISO 9001:

  1. Aplikasi permohonan pendaftaran dilakukan dengan melengkapi kuestioner SMM
  2. Asesmen terhadap ISO 9001 yang dilakukan oleh satu badan sertifikasi – dimana suatu organisasi haruslah dapat menunjukkan bahwa manajemen mutu yang dilakukannya telah benar-benar berjalan secara minimal dalam jangka waktu tiga bulan sesuai seluruh urutan (siklus) dari audit internal
  3. Permohonan pendaftaran disetujui oleh satu badan sertifikasi, berikut tahapan selanjutnya harus dilakukan oleh klien. Program 6 bulanan atau 12 bulanan (tahunan) kunjungan audit pengawasan (surveilans) haruslah benar-benar dilaksanakan serta proses sertifikasi ulang setelah tiga tahun masa berlakunya sertifikasi ISO 9001 tersebut.
        Berikut adalah manfaat dari pendaftaran ISO 9001:

  1. Kepuasan pelanggan – dengan penyampaian produk secara konsisten dalam memenuhi persyaratan-persyaratan pelangga.
  2. Mengurangi biaya operasional – dengan peningkatan berkesinambungan pada proses-proses dan hasil dari efisiensi operasiona.
  3. Peningkatan hubungan pada pemegang kepentingan – termasuk para staf, pelanggan dan pemasok
  4. Persyaratan kepatuhan hukum – dengan pemahaman bagaimana persyaratan suatu peraturan dan perundang-undangan tersebut mempunyai pengaruh tertentu pada suatu organisasi dan para pelanggan anda.
  5. Peningkatan terhadap pengendalian manajemen resiko – dengan konsistensi secara terus-menerus dan adanya mampu telusur suatu produk dan pelayana.
  6. Tercapainya kepercayaan masyarakat terhadap bisnis yang dijalankan – dibuktikan dengan adanya verifikasi pihak ketiga yang independen pada standar yang diakui.
  7. Kemampuan untuk mendapatkan lebih banyak bisnis – khususnya pemenuhan spesifikasi-spesifikasi pengadaan yang membutuhkan sertifikasi sebagai suatu persyaratan untuk melakukan suplai barang dan jasa.
  •  ISO 14000
        ISO 14000 termasuk yang paling terkenal adalah ISO 14001; yang merupakan inti set standar yang digunakan oleh organisasi untuk merancang dan menerapkan sistem manajemen lingkungan yang efektif. Standar lainnya termasuk dalam seri ini adalah ISO 14004, yang memberikan pedoman tambahan untuk sistem manajemen lingkungan dan standar yang lebih khusus yang berhubungan dengan aspek-aspek tertentu dari manajemen lingkungan. ISO 14000 standar manajemen lingkungan yang ada untuk membantu organisasi meminimalkan bagaimana operasi mereka berdampak negatif terhadap lingkungan.


        Tujuan utama dari seri ISO 14000 norma adalah


"untuk mempromosikan lebih efektif dan efisien pengelolaan lingkungan dalam organisasi dan untuk menyediakan alat yang berguna dan bermanfaat - biaya yang yang efektif, sistem berbasis, fleksibel dan mencerminkan organisasi terbaik dan yang terbaik organisasi praktek yang tersedia untuk mengumpulkan, menafsirkan dan mengkomunikasikan informasi yang relevan lingkungan " 


        
        Ini menawarkan sumber bimbingan untuk memperkenalkan dan mengadopsi sistem manajemen lingkungan berdasarkan praktek terbaik universal, dengan cara yang sama dengan ISO 9000 seri sistem manajemen mutu, yang sekaran banyak digunakan, merupakan alat untuk transfer teknollogi yang terbaik yang tersedia praktek manajemen mutu. Dalam struktur seri ISO 14000 adalah sama dengan ISO 9000 kualitas manajemen dan keduanya diimplementasikan berdampingan. 
  • ISO 14001
        ISO 14001 adalah standar internasional yang menentukan persyaratan untuk pendekatan manajemen yang terstruktur untuk perlindungan lingkungan.

        ISO 14001 (Sistem Manajemen Lingkungan) merupakan sistem manajemen perusahaan yang berfungsi untuk memastikan bahwa proses yang digunakan dan produk yang dihasilkan telah memenuhi komitmen terhadap lingkungan, terutama dalam upaya pemenuhan terhadap peraturan di bidang lingkungan, pencegahan pencemaran dan komitmen terhadap perbaikan berkelanjutan.


        Berikut merupakan elemen yang ada pada ISO 14001:
        ISO 14001 dikembangkan dari konsep Total Quality Management (TQM) yang berprinsip pada aktivitas PDCA (Plan – Do – Check – Action), sehingga elemen-elemen utama EMS akan mengikuti prinsip PDCA ini, yang dikembangkan menjadi enam prinsip dasar EMS, yaitu:

  1. Kebijakan Lingkungan
  2. Perencanaan 
  3. Implementasi dan operasi                                               
  4. Pemeriksaan dan Tindakan Perbaikan
  5. Tinjauan Ulang Manajemen
  6. Penyempurnaan menerus 
        Pada prinsipnya, keenam prinsip ISO 14001 – Environmental Management System diatas dapat dibagi menjadi 17 elemen, yaitu:

  1. Environmental policy (kebijakan lingkungan): Pengembangan sebuah pernyataan komitmen lingkungan dari suatu organisasi. Kebijakan ini akan dipergunakan sebagai kerangka bagi penyusunan rencana lingkungan.
  2. Environmental aspects (aspek lingkungan): Identifikasi aspek lingkungan dari produk, kegiatan, dan jasa suatu perusahaan, untuk kemudian menentukan dampak-dampak penting yang timbul terhadap lingkungan.
  3. Legal and other requirements (persyaratan perundang-undangan dan persyaratan lain): Mengidentifikasi dan mengakses berbagai peraturan dan perundangan yang terkait dengan kegiatan perusahaan.
  4. Objectives and targets (tujuan dan sasaran): Menetapkan tujuan dan sasaran lingkungan, yang terkait dengan kebijakan yang telah dibuat, dampak lingkungan, stakeholders, dan faktor lainnya.
  5. Environmental management program (program manajemen lingkungan): rencana kegiatan untuk mencapai tujuan dan sasaran
  6. Structure and responsibility (struktur dan tanggung jawab): Menetapkan peran dan tanggung jawab serta menyediakan sumber daya yang diperlukan
  7. Training awareness and competence (pelatihan, kepedulian, dan kompetensi): Memberikan pelatihan kepada karyawan agar mampu mengemban tanggung jawab lingkungan.
  8. Communication (komunikasi): Menetapkan proses komunikasi internal dan eksternal berkaitan dengan isu lingkungan
  9. EMS Documentation (dokumentasi SML): Memelihara informasi EMS dan sistem dokumentasi lain
  10. Document Control (pengendalian dokumen): Menjamin kefektifan pengelolaan dokumen prosedur dan dokumen lain.
  11. Operational Control (pengendalian operasional): Mengidentifikasi, merencanakan dan mengelola operasi dan kegiatan perusahaan agar sejalan dengan kebijakan, tujuan, dan saasaran.
  12. Emergency Preparedness and response (kesiagaan dan tanggap darurat): mengidentifikasi potensi emergency dan mengembangkan prosedur untuk mencegah dan menanggapinya.
  13. Monitoring and measurement (pemantauan dan pengukuran): memantau aktivitas kunci dan melacak kinerjanya
  14. Nonconformance and corrective and preventive action (ketidaksesuaian dan tindakan koreksi dan pencegahan): Mengidentifikasi dan melakukan tindakan koreksi terhadap permasalahan dan mencegah terulang kejadiannya.
  15. Records (rekaman): Memelihara rekaman kinerja SML
  16. EMS audits (audit SML): Melakukan verifikasi secara periodik bahwa SML berjalan dengan baik.
  17. Management Review (pengkajian manajemen): Mengkaji SML secara periodik untuk melihat kemungkinan-kemungkinan peyempurnaan berkelanjutan.
  • ISO 14010-14015
        ISO 14010 – 14015 (Pelaksanaan Audit Lingkungan) merupakan alat manajemen untuk menguji efektivitas perusahaan dalam melaksanakan kegiatan pengelolaan lingkungan dengan menggunakan kriteria audit yang disepakati, didokumentasikan, dan hasilnya dikomunikasikan kepada klien.

  • ISO 14020-14024
         ISO 14020 – 14024 (Label Ekologis) merupakan model sertifikasi produk yang memberi jaminan terhadap pasar bahwa proses yang dilakukan dalam sistem produksinya adalah proses yang ramah lingkungan, atau produknya dapat didaur ulang, atau proses produksinya tidak mengandung risiko dampak lingkungan yang merugikan sistem kehidupan manusia. Sertifikasi ini berlaku internasional.
  •  ISO 14041-14044

        ISO 14041 – 14044 (Penilaian Siklus Hidup) merupakan prosedur sistematis untuk mengumpulkan dan menguji masukan dan keluaran dari bahan dan energi serta dampak lingkungan yang terkait langsung dalam fungsi sitem produk dan jasa melalui siklus hidup dari produk dan jasa tersebut.
 
---

Nama: Fitri Anda  
Dosen: Abdul Malik Firdaus, S. Kel, M. I. L 

Bahasan: International Organization f0r Standardization

Referensi:

https://id.wikipedia.org/wiki/Organisasi_Internasional_untuk_Standardisasi
https://id.wikipedia.org/wiki/ISO_9000
http://www.safetyshoe.com/tag/iso-adalah/
http://selawan33.blogspot.co.id/2015/01/pengertian-iso-14000.html
https://renggaarnalisrenjani.wordpress.com/2013/04/12/mengenal-iso-14001-sistem-manajemen-lingkungan/
https://environment-indonesia.com/apa-itu-iso-14001/
https://azizipee.wordpress.com/2017/11/07/sistem-manajemen-lingkungan/